sit[A]TTACKS


Menjadi 999,999
November 29, 2008, 5:21 am
Filed under: Uncategorized

pernah terganggu
waktu sadar bahwa idealismemu ternyata gampang dikompromikan?
bahwa hal yang prinsipil dalam hidupmu dengan mudahnya dikhianati?
lebih menyakitkan karena kamu sendiri yang mencoreng kata khianat

adakah hal-hal yang sangat mengganggumu sekarang?
lebih menyakitkan karena kamu diam

belakangan ini aku sadar
aku bukanlah satu dari satu juta
aku adalah sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan
yang tidak berani berbuat sesuatu yang berbeda
yang terlalu nyaman dalam keadaan aman
lebih menyakitkan karena aku sadar

aku adalah kaki tangan musuh yang menyerahkan para patriot ke tiang gantungan
aku adalah tangan yang menutup pintu saat orang mengetuk meminta pertolongan
aku adalah mulut yang bungkam saat jaksa menanyakan perihal kebenaran
aku adalah bagian dari mereka
lebih menyakitkan karena aku yang memutuskan demikian

Selamat datang di dunia sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan



Is Madonna Still Relevant?
November 29, 2008, 4:07 am
Filed under: Uncategorized

Judul di atas adalah headline di “Houston Chronicle” pada hari H minus satu konser Madonna di Minute Maid Park, Houston, Nov 16 lalu. Konsernya memang selalu sold out, namun penjualan albumnya tidak lagi menembus platinum. Dengan sisa kejayaan masa silam dan lagu-lagu baru yang tidak begitu dikenal, apa yang bisa diharapkan, begitu komentar jurnalis nyinyir itu.

Madonna, Madonna, Madonna… seperti Coca Cola dan MTV adalah ikon budaya pop. Siapa yang tidak kenal Madonna? Lupakan Michael Jackson atau Whitney Houston (Whitney who?), atau penyanyi seangkatan Madonna lain, yang saat ini sudah tak jelas kabarnya. Madonna tetap eksis sampai sekarang, orang tetep mengenalnya dari poster dan stiker majalah Hai, dari nama cewe bule idaman Dono di film Warkop, dari trend kimono merah Gaultier di akhir 90an, dari video klipnya yang di-banned Pemerintah US karena menyindir Mr W dan perang Irak, sampai ciuman kontroversial dengan Britney Spears. Walau terus terang aku bukan fans berat Madonna dan cuma punya 1 albumnya (Music! And twas a hella good album), terkutuklah aku kalau sampai melewatkan konser itu!!!

Minggu itu di Minute Maid Park, setelah antrian yang minta ampun panjangnya dengan suhu yang (tumben!) minta ampun juga dinginnya, akhirnya sampai juga di area konser “Sticky and Sweet Tour”!!! Perlu diberi tanda seru tiga kali, sebab ini adalah konser Madonna!!! Sayang, aku kebagian tempat duduk yang lumayan jauh dari panggung (got second hand ticket, which is quite pricey, maklum sold out), jadi ngga bisa ngeliat Madonna’s sticky and sweet sweat secara langsung.

Konsernya terlambat 2 jam!! Dari jadwal semula jam 7.30 pm, acara baru dimulai sekitar jam 9.30 pm. Oke, oke, hal ini memang lazim di konser musik, tapi yang ini tanpa opening act!! Sempat bete juga nunggu lama, walau cukup terhibur dengan dandanan para penontonnya yang menduplikasi Madonna 80an: ada yang datang dengan gaun pengantin, dengan bra corong dan wig pirang ala Marilyn Monroe. Ada serombongan gay berbaju pink dengan celana segitiga ala Madonna dan stocking jala (plus bola-bola lampu menyala-nyala melingkar di pinggang). Ada sepasang kekasih yang bertengkar sambil saling melemparkan gelas bir. What a crowd!

Semua teralihkan di pukul 9.30 pm saat lampu dimatikan dan Madonna di atas singgasana masuk ke atas panggung yang berhiaskan huruf M raksasa. “My sugar is raw!!!” katanya memulai pertunjukan. Sebuah Rolls Royce lantas mengikuti, dengan segerombolan penari latar di atasnya. Sebagai info, Minute Maid sendiri sebenernya bukan gedung pertunjukan, tapi stadion olah raga (american football), sehingga akustiknya pun sebenarnya ngga memadai untuk konser musik. Tapi, demi Jupiter dan Toutais, stage act Madonna memang ngga ada duanya. She’s wearing red boxer pants (yup, she was, and btw she’s 50!), jumping on skipping rope, she’s larger than life!

Konser ini untuk promo album “Hard Candy” (yeah yeah i know what u r thinkin) yang sebenarnya asing di telingaku, untungnya Madonna masih membawakan nomer-nomer lawasnya, dengan mixing yang dibuat setema dengan lagu “The Beat Goes On.”  Giant screen dengan gambar hidup partner duetnya (i.e: Justin Timberlake, Timbaland, Pharrel & Britney Spears) muncul berganti-ganti. Terus terang, menurutku, album terakhir ini terlalu soft dan bubble gummy buat seorang Madonna, karena lirik-liriknya tidak mencerminkan pemberontakan, murni fun untuk dance semata. But she ain’t a sweet girl, lagu-lagu seperti “Human Nature,” “Like Me,” “Like A Prayer” tetap dibawakan. Gambar Barack Obama sempat muncul di screen pada saat “Like A Prayer” dinyanyikan, walaupun Houston sendiri bukan basis partai Demokrat. Ngga heran sempat terdengar suara “booo” dari deretan belakang kursiku (yeah, you go, girl!). Sebagai bonus untuk komunitas Hispanik yang mendominasi populasi Houston, Madonna pun membawakan “Spanish Lesson” dan “La Isla Bonita.” But my favorite was “Ray of Light” (karena sebenernya i’m a fan of William Orbit hehehe). Madonna terlihat sangat k e r e n, dan oh ya, tidak ada kata sifat lain yang secara tepat bisa mendeskripsikan penampilannya.

Konser ditutup dengan “Give It 2Me” dari album Hard Candy, dan penonton pulang sambil berdendang karena lagu lawas “Holiday” lantas diputar.

Secara keseluruhan, konser ini cukup menghibur, walaupun sebenarnya I was expecting something more. Mungkin karena kombinasi tempat duduk yang ngga terlalu strategis, akustik yang buruk dan terlalu lama menunggu. Tapi, eitts, performa Madonna sendiri tetap top notch, dan ini terbantu dengan lagu-lagu yang kadung sangat dikenal (oleh penggemar dan non penggemarnya), plus koreografi yang sangat rancak. Madonna yang berumur 50, namun tetap eksis dan sukses bertransformasi mengikuti perkembangan trend, bahkan berkontribusi menciptakan trend. Madonna yang masih bisa menggaet ribuan penonton dengan tiket konser yang sold out di stadion olah raga, di saat artis seusianya manggung di klab-klab Vegas atau mulai rajin tur di Asia Tenggara.

Is Madonna Still Relevant? Damn YES, she is



Me Tag Tag
October 5, 2008, 4:04 am
Filed under: Uncategorized | Tags:

Re: Saya Kena Tag dan Saya Menjawab (by Ika Krismantari)

Ini menjawab Ika dengan judul di atas. Peraturannya adalah, orang yang kena “tag” harus menceritakan 10 hal (candid) mengenai dirinya, lantas punya hak untuk meneruskan “tag” ini pada 10 orang lainnya (jangan kuatir, ngga ada sanksi & penalti kok).

Nah yuk mari, mulai…

10 Hal Tentang Teresita Listyani

1. Sita itu ngga bisa bangun pagi; walaupun sebenernya jam kerja kantor mulai jam 7 dan seyogyanya para kurcaci hamba sahaya yang dispensable seperti diriku bergegas bangun paling lambat jam 5 supaya bisa masuk kerja on time. Paling cepet aku bisa bangun jam 6 pagi, itupun harus dengan bantuan alarm. Walaupun aktivitas bangun pagi ini harusnya jadi otomatis karena dilakukan tiap hari, ternyata alarm biologisku sama sekali ngga berfungsi, dan aku harus pake tool tambahan untuk bisa bangun. Ngga heran, aku memang punya ketergantungan terhadap jam weker dan alarm HP (yap, benar teman, harus kombinasi kedua tool itu!)

2. Punya pendapat bahwa “Missing Link” dalam teori evolusinya Darwin itu ngga ada, karena memang ngga ada link! Walopun paleontologist bakal mencerca habis teori ini, tapi menurutku, yg dikenal para ahli sebagai manusia purba itu memang kera, munyuk, beruk, kethek! Nah, manusia, saudara2, adalah keturunan ALIEN! Ada suatu masa terjadinya invasi alien ke bumi, di masa pra peradaban. Lihat aja relief di kuil-kuil Maya, Aztec, Mesir, dan simbol-simbol atau hikayat kuno lain mengenai nenek moyang atau dewa bijak dengan kendaraan benderang dari langit. Alien itu jelas!

3. Pengen banget kerja dari rumah atau bekerja di bidang non profit, murni sosial. Percaya atau ngga, aku sangat ingin jadi ibu rumah tangga (my Mom is a housewife, and I’m thankful to her for that particular decision)! Bukan berarti lantas ngga punya kerjaan, karena dengan internet, u still can attach yourself to the world! Internet marketer, penerjemah, on-line volunteer, konsultan, you name it. Atau bekerja di bidang yang murni sosial, dan tidak mengharuskan adanya keterikatan dengan waktu dan tempat

4. I’m a wimp in sports; sama sekali ngga sporty! Mungkin karena bershio kambing dan berzodiac Capricorn (kambing kuadrat!). Kambing pada dasarnya memang ngga sporty!! Pernah liat, kambing jadi maskot pesta olah raga?

5. Waktu pertama kali belajar membaca/menulis, hobi berat membalik-balik kata. Jadi bukannya menulis “Ini Ibu Budi,” yang kutulis adalah “Ini Ubi Idub,” menulis “Atis” bukannya “Sita.” Dan ini bener bikin eneg guru SD (Bu Bernadet atau yang kutulis “Ub Tedanreb”) jaman kelas satu dulu. Lupa sih, kenapa kebiasaan itu ilang, mungkin karena kebanyakan dihardik Ub Tedanreb

6. Penggemar fanatik Tuhan, ke-Maha Jeniusan-Nya, ke-Maha Hukum & Cinta-Nya, walau bukan penggemar satu agama saja. Sayang, kalau Tuhan yang begitu Maha Segala, dideskripsikan sempit dan disimpan dalam kotak kecil

7. Jarang banget jatuh cinta *sigh!* Mungkin karena kebanyakan dipikir, padahal kriterianya gampang lho: pinter, bijak dan baik hati. Kombinasi ketiganya memang jarang: yang pinter rawan arogan, yang baik hati biasanya jadi gampang dibully, yang bijak memang jarang (jarang sekali nemu orang yang ngga suka menghakimi dan bisa melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang). Sialnya, kehilangan satu aspek dari ketiga kriteria itu bisa bikin ilfil.

8. Punya kemampuan makan banyak tanpa menambah berat badan. Kemampuan ini memang bikin iri banyak orang, apalagi kalau aku memesan berporsi-porsi makanan (semuanya main course!) lantas menyantapnya pelan-pelan sampai habis di tengah tatapan heran orang-orang.

9. Ngga pernah bisa manjangin rambut, gerah. Paling banter sebahu, itupun karena nazar keterima di UGM hehe.. (buatku itu nazar yang beraaat sekali dan segera dipangkas post orientasi)

10. Kriteria rumah idaman:
a. zero carbon emission, banyak bukaan dan pakai solar panel utk sumber tenaga
b. punya ruang bawah tanah yang bisa dibuka dengan tuas rahasia (tempat lilin misalnya), sebagai sanctuary kalau lagi bete
c. punya taman di atap seperti di film “Just Like Heaven”
Gampang kan? Cuma sayang belum siap untuk ngambil kredit dan terikat sampai matik dengan perusahaan… Tahun depan, doakan!!

OK, and my tag goes to:
1. Eka
2. Rifki
3. Yoghie
4. Anny
5. Dini
6. Elizabeth
7. Saud
8. Vella
9. Tika
10. Reynold

Nulis langsung di comment juga bisa… OK, happy writing….



Waktu
September 28, 2008, 3:48 am
Filed under: Uncategorized

Aku baru sadar betapa waktu bisa begitu tidak sopan
terutama karena kegemarannya lewat tanpa permisi
Mungkin saja memang waktu tak perlu mengenal tata krama
karena si Mbah Waktu itu memang dikenal kejam dalam segala peradaban

Kronos, dewa usia dan waktu dalam mitologi Yunani adalah dewa yang kejam
gemar menghancurkan, tamak, menakutkan
menggulingkan ayah kandungnya dari kekuasaan, memakan anak-anaknya sendiri

Aku tertusuk waktu, saat sadar apa yang telah diperbuatnya pada orang-orang yang kucintai
Menyadari semakin seringnya Papaku masuk angin
kerap lupa dan mengulang-ulang membicarakan hal yang sama
lebih cepat tersinggung jika sulit dimengerti
dan tangannya mulai gemetar jika sedang mengemudi

Aku tertusuk waktu, saat sadar apa yang telah diperbuatnya pada diriku
Melihat guratan halus yang mulai timbul di bawah mata kananku
Mulai berkompromi dengan banyak hal, karena takut tak lagi punya waktu
Mulai harus memikirkan jawaban jitu jika diberi pertanyaan, “kapan kawin?”
Mulai menemukan bahwa ada banyak hal yang harus kupikirkan, tak hanya diriku, tapi juga orang-orang yang sangat kucintai
mereka yang mulai kelelahan ditinggal waktu

Kala dalam mitologi Jawa adalah raksasa pemusnah
Kala, waktu dan hitam tidak bisa terpisah
berwajah menakutkan dan gemar memakan orang-orang tak bersalah

Aku tertusuk waktu saat sadar betapa banyaknya orang berubah deminya
Dan tertusuk berkali-kali, ketika sadar aku adalah salah satu diantaranya



Jasmerah
August 10, 2008, 4:36 am
Filed under: Uncategorized

Mungkin aku memang sudah ketinggalan jaman
Yang masih saja hidup di masa lalu

Pithecantropus erectus, Homo wajakensis
Atau mungkin mulai abad ke 21 kemarin
Hitungan sejarah mulai lagi dari nol?

Kemarin aku mendapati kenyataan tidak berartinya kehidupan masa lalu di masa kini, saat sedang mengajar di sebuah SD di Tangerang, dengan teman-teman sekantor. Lantas, seperti biasa, ada event bagi-bagi hadiah, dan kebetulan, aku ditembak untuk membawakan games kuis, yang pertanyaan-pertanyaannya bisa kukarang sesuka hati. Dan aku pun memilih mengambil tema kemerdekaan Indonesia, berhubung 17 Agustus sudah dekat.

Mungkin 1945 memang sudah 63 tahun lalu
Atau mungkin mulai reformasi kemarin
Hitungan sejarah Indonesia mulai lagi dari nol?

Miris sekali, bahwa ternyata, anak-anak SD itu tidak ada lagi yang kenal Sayuti Melik, Rengasdengklok, Perang Diponegoro, Ibu Fatmawati,Hari Kebangkitan Nasional
Nama-nama dan momen yang masih kuingat sampai sekarang
Aku ngeri dengan bocah-bocah televisi ini
Salah guru sejarah? Salah kurikulum? Salah televisi? Atau salahku yang selalu berpikir, bahwa hal-hal dan tokoh-tokoh itu tetap penting!

Aku lalu ingat lagi pernah menonton kuis anak-anak yang dibawakan Hughes di TV. Inti permainannya adalah menebak pikiran anak-anak, dan salah satu babaknya adalah menebak paparan anak-anak tersebut, jika suatu kata kunci disebutkan pada mereka. Lalu kata kuncinya adalah “pahlawan.” Peserta kuis (yang umurnya sekitar 30an) lantas menebak bahwa anak-anak itu akan mengatakan: Sudirman, Diponegoro dll sebagai pahlawan. Tebak, apa paparan anak-anak itu? Yap, benar: “Spiderman, Superman, Batman!”

Aku ngga bisa menyalahkan anak-anak itu. Pada saat aku masih SD dulu, pelajaran sekolah adalah pusat tata surya, dan kami adalah planet yang berputar mengelilinginya. Satu-satunya obyek asing yang bisa menghalangi jalur orbit planet hanyalah TVRI atau pohon mangga tetangga. Pilihan tidak begitu banyak
pada masa itu, tidak begitu banyak hal-hal dan peristiwa yang membingungkan.
Mudah memahami sejarah, karena tidak begitu banyak tokoh baru yang lalu lalang plus tidak banyak kontroversi yang didiskusikan secara terbuka; bukan hanya politikus oportunis dan pejabat korup, namun juga bintang sinetron, pembunuh berantai yang kebetulan gay, makhluk jadi-jadian, pahlawan Hollywood dan kartun Jepang serta tokoh-tokoh jagoan video games.

Maka gambar klasik hitam putih Bung Karno membacakan naskah Proklamasi kemerdekaan di depan corong microphone menjadi sangat tidak menarik dan sangat mudah dilupakan oleh otak yang dipenuhi euforia obyek bergerak cepat yang berwarna warni. Apalagi kegunaan informasi semacam ini sangat jarang dalam hidup sehari-hari, kecuali pada saat ujian sejarah atau ketika ada seseorang pembawa games iseng seperti aku yang tiba-tiba menanyakan hal-hal itu demi membagi hadiah.

Lantas apa yang harus dilakukan? Atau tidak perlu melakukan apapun? Apa betul generasi sekarang mengalami degradasi nasionalisme karena ngga paham sejarah? Atau jangan-jangan hanya aku yang belum bisa memahami pola pikir generasi sekarang?

Sebuah artikel di New York Times (February 08) yang bertitel “Survey Finds Teenagers Ignorant on Basic History and Literature Questions” menyebutkan bahwa sebuah survey di AS membuktikan remaja usia SMU di Amerika sudah sangat tidak melek sejarah dan sastra; tidak banyak yang tahu kapan Perang Sipil (Civil War) terjadi, siapa itu Lincoln dan kapan Columbus menemukan Amerika, menunjukkan bahwa keacuhan terhadap sejarah bukan semata-mata problem unik milik Indonesia. Dalam artikel ini, yang disimpulkan menjadi penyebab adalah kurikulum yang terfokus pada penguasaan matematika dan sains.

Mungkin juga benar begitu. Sehingga menurutku, kembali ke teori kemampuan otak untuk mengeliminasi hal-hal yang dianggap tidak menarik dan tidak berguna, maka solusinya adalah menstimulasi otak anak-anak agar menganggap sejarah adalah sesuatu yang menarik dan berguna, tidak kalah dengan kedinamisan matematika, sains dan sinetron kejar tayang.

Itu mestinya tidak mudah dan butuh banyak usaha; tidak cuma dari guru sejarah yang perlu menciptakan metode untuk mengajarkan sejarah secara lebih menarik, tapi juga dari (hiks!) televisi untuk mengalokasikan waktu tidak hanya pada program haus rating, lantas juga orang tua, yang mestinya membiasakan anak untuk melek sejarah. Aku sengaja tidak menyebutkan peran Pemerintah, karena sepertinya sudah terlalu banyak hal yang harus dipikirkan Pemerintah, sehingga secara realistis, mustahil kemelekan sejarah akan jadi prioritas. Solusinya memang serba ideal, serba abstrak terlalu kondisional.

Aku memang belum bisa menemukan solusi yang instan, tapi setidaknya aku akan dengan tetap keukeuh memasukkan pertanyaan sejarah tiap kali ada acara games di depan anak-anak, dengan berkata
”Oh, ya, Dik, pelajaran sejarah itu berguna, setidaknya kalau kalian ingin
hadiah! OK, siapa nama asli Multatuli??



Hassanku Bernama Grace
June 22, 2008, 2:42 am
Filed under: Uncategorized

Hassanku bernama Grace. Bukan, hubunganku dengan Grace bukanlah majikan dan pembantu seperti Hassan dan Amir-agha nya di novel "Kite Runner" karya Khaled Hosseini. Aku juga bukan jago bermain layangan  seperti Amir. Tapi ada satu kesamaan  antara aku  dan Amir;  kami berdua sama-sama tidak punya nyali.

"Greis, dari Timor Timur…" begitu caranya memperkenalkan diri dengan logat Timor yang kental, di depan kelas, dengan rok merah pudar yang sedikit kependekan dan baju seragam putih yang mulai menguning. Badannya terlihat lebih jangkung dengan wajah yang lebih tua dibandingkan anak-anak kelas 3 SD seperti kami saat itu. Kami memandang dengan penuh selidik, karena baru pertama kali kami mendapat teman sekelas berkulit keling dan berlogat asing yang belum pernah kami dengar sebelumnya.

Grace lantas duduk pelan-pelan di bangku tambahan di deretan paling depan, karena kelas kami memang sudah penuh betul. Demikian juga di hari-hari selanjutnya, Grace selalu duduk pelan-pelan di bangkunya, diam seperti hantu, tak pernah menjawab pertanyaan Bu Guru, tak bereaksi ketika Stephen, bocah paling tengil di kelas mulai memanggilnya "Ambon Hitam!!" (yang jelas-jelas salah kaprah karena Grace sama sekali bukan dari Ambon!). Grace riuh dalam pikirannya, ketika kami riuh menirukan Google V yang sedang sangat populer saat itu. Ia memilih melipat-lipat ujung halaman bukunya, ketika beberapa anak dengan sengaja melemparinya dengan pesawat kertas. Begitu seterusnya, sampai kami mulai menganggapnya tidak ada…

Grace kembali ada, setidaknya buatku, beberapa minggu kemudian, ketika Bu Guru memutuskan untuk membagi kelas dalam kelompok belajar berdua-dua, untuk pemerataan pemahaman materi menjelang ulangan umum. Tebak aku sekelompok dengan siapa: Grace! Aku sunggguh uring-uringan, utamanya karena tidak bisa sekelompok dengan gerombolan segengku, dan lebih karena tidak tahu bagaimana cara memulai pembicaraan dengan Grace. Karena keputusan Bu Guru tak dapat diganggu gugat, jadilah aku berinisiatif mengajak Grace untuk belajar bersama di rumahku sore itu, walaupun sangsi bahwa ia akan benar datang. Ia hanya mengangguk saat ajakan itu kukemukakan.

Grace datang sore hari itu dengan baju terusan kembang-kembang yang lagi-lagi terlihat kependekan. Seorang laki-laki mengantarnya dengan sepeda, mungkin itu ayahnya, pikirku. Mereka berbicara sebentar dengan bahasa yang tidak kukenal, lantas laki-laki itu kemudian tersenyum padaku dan meninggalkan Grace. Aku mengajak Grace masuk ke dalam rumah, di ruang tamu yang sudah kupersiapkan dengan setumpuk buku Lima Sekawan dan komik Tintin, serta permainan ular tangga, yang siapa tahu dibutuhkan kalau-kalau kami butuh selingan. Tapi Grace tetap diam seperti hantu dan tak terlihat tertarik, sehingga aku putus asa dibuatnya. Aku lantas memulai membuka buku Matematika dan mulai menjelaskan walaupun tahu tak akan berbalas apapun darinya.

Aku sudah benar-benar putus asa, sampai tiba-tiba ia bersuara,"Bapak Ibu ada?"
"Bapak Ibu siapa?" tanyaku sedikit terkejut
"Kau punya Bapak Ibu ada?"
"Ada…" jawabku pendek sambil mencoba mencerna maksud perkataannya
Grace lantas diam lagi. Hening sejenak, dan hanya ada suara lembaran buku yang kubolak-balik

"Saya punya Bapak mungkin sudah mati…"
Aku menatap dengan terkejut, lalu mengajukan pertanyaan yang sangat spontan
"Bagaimana bisa?"
"Saya punya Ibu juga sudah mati, ditembak… Saya punya adek masih bayi, masih diteteki. Dia masih netek…"
Mata Grace mulai nanar
"Orang masuk ke kita punya desa, mereka baku tembak, kita semua lari. Saya punya Ibu kena tembak, padahal saya punya adek masih diteteki! Tapi kita semua lariiii…"
Grace mulai menangis sesenggukan, lalu memukul-mukul badannya seakan ingin sekali berusaha menghentikan tangisannya.
"Mereka jahat sekali..!!"
Grace menyeka matanya dengan lengan baju kembang-kembangnya. Lalu memukuli dirinya sendiri lagi, sehingga aku merasa ngeri

Aku tak tahu harus berbuat apa. Pernyataan dan sikap Grace sangat sulit dimengerti buatku, dan sangat baru di duniaku yang penuh khayalan tentang detektif, pencarian harta karun dan makhluk luar angkasa. Aku hanya tertegun dan menunggu Grace tenang dan selesai menangis. Satu hal yang aku tahu pasti, permainan ular tangga tidak akan cukup untuk menghiburnya.

Sore itu rasanya lama sekali. Aku berusaha mengalihkan perhatian Grace pada pelajaran Matematika kembali setelah ia berhenti menangis. Syukurlah, akhirnya laki-laki yang tadi mengantarnya, datang dan menjemput Grace. Aku lantas membereskan buku Lima Sekawan dan komik Tintinku dengan gundah. Berdekatan dengan Grace membuatku merasa sangat tidak nyaman, ada rasa takut juga sedih yang sangat, tapi aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Malam itu, aku sulit tidur

Grace mengamuk keesokan paginya. Stephen yang biasanya tak mendapatkan reaksi ketika meneriakkan "Ambon Hitam!" hari itu mendapat timbalannya. Grace menjambak rambut Stephen, menjepit tangannya, lantas memukuli badan Stephen dengan penggaris kayu. "Jangan panggil Ambon Hitam! Jangan panggil Ambon Hitam!! jerit Grace berulang-ulang. Kami memandang adegan itu dengan ngeri, badan Grace yang lebih besar daripada kami membuatnya cukup punya tenaga untuk melakukan apa saja. Bu Guru harus turun tangan meleraikan perkelahian itu, dan Grace pun dihukum berdiri di depan kelas. Sekilas aku bisa melihat Grace melirik kepadaku dari depan kelas, tapi aku pura-pura tak melihatnya.

Kami sekelas lantas makin menjauhi Grace, bukan lagi karena keterasingannya, tapi lebih karena takut akan apa yang dapat dilakukannya pada kami. Berkali-kali aku pura-pura tidur atau sakit, jika Grace sudah datang di rumahku untuk belajar bersama. Aku pun akhirnya meminta Bu Guru untuk mengganti partner kelompok belajarku dengan alasan Grace tidak pernah serius belajar. Grace tentu tak berkata apa-apa, ia hanya menatapku tajam. Lalu seperti kemarin dan hari-hari berikutnya, aku pura-pura tak melihatnya.

Grace akhirnya benar-benar pergi beberapa minggu kemudian. Kata Ibu Guru ia pindah bersama tantenya ke Menado. Kelas memang akhirnya terasa lebih nyaman tanpanya, setidaknya begitu menurutku.

Aku tak pernah lagi bertemu Grace, sampai akhirnya aku bertemu laki-laki yang selalu mengantar Grace dengan sepeda, saat itu di hari Minggu setelah misa di Gereja. Laki-laki itu menghampiri Papa, lalu saling berbicara, rupanya mereka saling kenal. Laki-laki itu tersenyum kepadaku, "Adek ini kan temannya Grace…Saya pernah antar Grace ke rumah Bapak"
Aku cuma tersenyum kecut, sambil berusaha menyembunyikan wajahku di balik badan Papa.
"Grace itu keponakan saya. Kasihan, Bapak tahu sendiri di sana seperti apa. Dia di sana sudah tidak punya siapa-siapa, jadi dia kami bawa ke sini. Dia pendiam sekali dan jarang bercerita, tapi dia pernah cerita kalau teman-temannya suka jahat, kecuali Adek ini. Kata Grace, Adek betul-betul teman yang baik dan mau mengajari Grace…"

……….

Butuh bertahun-tahun buatku untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi "di sana" yang mengharuskan Grace pindah ke tempat kami. Butuh bertahun-tahun buatku untuk mengerti kepedihan yang dialami Grace yang membuatnya menjadi begitu marah. Satu hal yang masih belum kupahami adalah mengapa Grace menganggap aku, si pengecut yang memilih menjauhi daripada berusaha memahami, sebagai teman yang baik.

Hassanku bernama Grace, dan aku masih berutang nyali padanya

___________________________________________________________

…it’s wrong what they say about the past, I’ve learned, about how you can bury it. Because the past claws its way out
- "Kite Runner" -Chapter 1



manusia metropolitan
May 28, 2008, 5:58 am
Filed under: Uncategorized

Selain penggunaan kata ganti orang pertama yang mulai bergeser dari "aku" menjadi "gue," sebenarnya ngga ada perubahan signifikan dari Sita sebagai manusia metropolitan. Seorang teman pernah bilang, aku memang tak punya bakat menjadi kaum metropolis, apalagi hedonis.

Pertama, aku suka sekali berbahasa Jawa. Buatku itu jadi trade mark yang menguntungkan karena jarang-jarang marketing perusahaan asing yang bisa berbahasa Jawa. Sangat berguna untuk melobi pejabat pemerintah yang sebenernya jika diruntut-runtut 90% asalnya dari Jawa. Payahnya, dalam bahasa sehari-hari, menjadi Jawa itu anomali (baca: norak), apalagi dicampur dengan bahasa Inggris dan logat Jakarta, yang esensi ketiganya sebenarnya saling meniadakan. Tapi buatku itu jadi perpaduan yang asyik, maka jangan heran dengan idiom andalanku, "lu tau ngga, it’s very angel actually.." (baca: sampeyan kudu ngerti, iki angel tenan sa’jane)

Kedua, aku ngga demen dugem. Entah mengapa, Tuhan menciptakan bagian-bagian tubuhku tidak saling berkoordinasi secara baik, sehingga sulit mempelajari gerakan yang dinamakan dance. Ngga bisa, mati gaya, ancur. Apalagi aku juga alergi asap rokok yang terlinting dari tembakau Virginia alias rokok putih (kalau kretek dari tembakau Temanggung macam Gudang Garam malah ngga apa2). Plus, aku juga bukan penggemar musik dance, trance, techno etc, yang maaf, bikin ngantuk buatku.

Ketiga, lidahku agak mati rasa. Terus terang, aku ngga pernah terlalu bisa membedakan makanan enak yang classy, sophisticated. Signature dish dari restoran-restoran upscale di Jakarta menurutku sami mawon rasane. Enak sih, tapi ngga membuat tergila-gila atau bangga betul pernah merasakannya. Malah gumun karena kadang2 dibandrol terlalu mahal. Begitu juga kasusnya dengan wine. Wine tastingku minus, ngga ngerti yang dinamakan "dry," "sweet" itu gimana sih (dan ngga terlalu peduli juga sebenarnya). Buatku adalah penyiksaan kalau harus sering2 dijamu atau menjamu orang dengan makanan yang memaksaku duduk dan bersikap cantik dan elegan. Sekali-kali oke deh, buat cerita kalau "pernah makan di sana," tapi semuanya sih gratisan, kalau duit sendiri, e m o h

Keempat, aku ngga tergila-gila merek. Teman pernah bilang aku ngga berkelas karena suka beli baju di pasar Benhil deket kantor. Gak apa2 toh, wong lucu tur murah. Lagipula tergantung cara mix and match juga kan? Bisa mati berdiri si teman tadi, kalo tau bahwa salah satu hobiku adalah mengobrak-abrik baju loakan.

Masih banyak sih list ke"tidakgaul"anku, dan pernah juga langsung dikomentari demikian, karena senantiasa berhobi ngomong plesetan, yang ternyata sudah "nggak gaul."  Penting juga sebenernya conforming supaya diterima secara lebih mudah dalam suatu komunitas, tapi ngga tahan jhe, dasarnya memang "ngga gaul" sih. Tapi dalam hati secara tulus, aku salut benar dengan orang-orang yang dengan sadar, bahagia dan sukses menjadi metropolis, soalnya buatku itu sangat melelahkan.



we will rock you
May 20, 2008, 3:52 am
Filed under: Uncategorized

Wewillrockyou_1
1_2

Ini opera musikal karya Ben Elton, yang terinspirasi dari lagu-lagu Queen. Sebelumnya pernah dipentaskan di London, Toronto, dan dipentaskan di Singapura 27 Maret - 27 April lalu. Atas rekomendasi bos, yang berapi-api mengatakan,”I know, I bet, I swear, you WILL love it!” dan karena kebetulan pertunjukan terakhir di Singapura bertepatan (…sebenernya ditepat-tepatin sih) dengan business trip di sana, maka jadilah gw dengan tiket di tangan, atas bantuan Fuji, my ol’mate (kudos to you, man…), nonton di malam itu di Esplanade.

Dan bos gw memang bener, I LOOOOVEEEE IT…. itu adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi para penggemar rock! No offense, tapi non penggemar rock memang bakal tersiksa karena dialog, idiom, karakter, atmosfer, kostum semuanya memang sangat rock, rock yang melegenda. Semua terinspirasi dari lagu-lagu rock, ngga cuma Queen, tapi juga The Beatles, Rolling Stones, Jimmy Hendrix, The Doors, The Monkees, Ozzy Osbourne, Elvis Presley, sampai U2 dan Nirvana. Membuat gw histeris, karena menemukan komunitas yang speaking my language….!!

Inti ceritanya adalah: di abad ke 24, musik dikuasai oleh perusahaan software yang bernama Globalsoft Corp, musik di abad itu adalah hasil programming, alat musik dilarang, dan seluruh peri kehidupan diatur oleh ratu yang bernama Killer Queen. Lalu ada seorang anak muda yang terus mendapat mimpi yang berisi lirik-lirik lagu rock dari abad 20/21, dari ilham itu dia menamakan dirinya Galileo Figaro. Jadilah Galileo Figaro berusaha menafsirkan arti mimpinya, yang ternyata menuntunnya menemukan gitar listrik yang sudah lama dilarang, dan membangkitkan musik rock untuk menggulingkan Killer Queen. Pengembaraan Galileo, didukung oleh the Bohemians, kelompok underground yang ogah banget kehidupannya maupun pilihan musiknya diatur Globalsoft.

It was superb!! Performernya penuh semangat (maklum final night), dialog dan humornya witty, bandnya sangat ROCK, dengan lagu-lagu Queen di sepanjang 2 jam pertunjukan!! Yang jelas, orang yang duduk di belakang gw pasti bersumpah serapah karena gw berdiri sambil tereak-tereak selama hampir setengah dari panjang pertunjukan hehehe….

Bener-bener memuaskan buat mata maupun urat-urat suara haha, ngga heran kalo rombongan di sebelah gw udah nonton pertunjukan ini sampe 3 kali… Bravo, bravo, bravo….!! Hail to rock music, man…!



kegilaan yang berlebihan pada pohon kersem di halaman kantor pak camat
April 6, 2008, 2:00 am
Filed under: Uncategorized

itu memang object of my affection waktu masih kecil dulu
pohon kersem a.k.a. seri a.k.a. ceri atau apapun itu namanya dalam bahasa Indonesia
(aku rasa itu semacam beri-berian, maaf aku ngga berhasil googling nama ilmiah si kersem ini apa)

ngga inget mengapa aku/kakak/temen2ku/temen2 kakak/tetangga/temen2 tetangga begitu menggilainya
padahal kalo dipikir-pikir rasanya gitu-gitu aja
manis sepet, mana buahnya kecil-kecil, nanggung ngga bikin kenyang
mungkin karena letaknya yang memacu adrenalin untuk dicolong
maklum si pohon kersem ini ditanam di halaman kantor pak camat
bisa ditimpukin penjaga kantor pak camat kalau ada yang berani mendekatinya, apalagi menjarah buahnya
dan dalam keterbasan jangkauan duniaku waktu kecil dulu, itulah adalah satu-satunya pohon kersem di alam semesta

maka fokus perhatianku seperti halnya semua anak kecil di lingkungan itu adalah menatapi pohon kersem itu dari luar pagar kantor pak camat di sore hari sehabis pulang sekolah
ngga inget apakah buah ini bermusim atau berbuah setiap saat
seingatku, buahnya memang ngga habis-habis
hijau kemerahan, menggantung, menunggu dicolong

dan sebagai ritual, penjaga kantor pak camat itu akan membiarkan kami mengamati-amati selama kurang lebih satu jam
dan lantas keluar sambil mengacung-acungkan sapu setelah fase observasi kami mulai beranjak ke fase invasi ke dalam halaman kantor camat

begitu setiap kali, sampai suatu ketika bapak penjaga kantor camat (untuk memudahkan, selanjutnya akan kusebut BPKC), tiba-tiba memanggilku setelah membuat grup pemburu kersem kami kocar-kacir

BPKC: "hey hey hey, kamu kan yang tinggal di sebelah?" (menunjuk rumahku)
aku: <semakin mengambil langkah seribu karena jangan2 BPKC menggertak, bak polisi yang bilang "ling, maling, gw tau bokap nyokap lo siapa…">
BPKC: "hey tunggu, ngga usah lari… mau kersem ngga?"
aku: melambatkan langkah, mulai tertarik
BPKC: "tapi tukar sama mangga…" (menunjuk pohon mangga yang mulai berbuah di halaman rumahku)

aku memang ngga terlalu tertarik dengan mangga, ngga seru, wong di halaman sendiri
buatku tawaran itu terdengar bagus; aku mendekat dan berkata, "boleh…"
BPKC: "besok, bawain ya, yang mateng-mateng. Tapi temen2nya ngga usah dikabari, nanti semuanya minta.."

aku pulang dengan hati senang, membayangkan kersem hijau kemerahan
bisa didapat tanpa nyolong
sepertinya negosiasi yang bagus, diplomatis tanpa pertumpahan darah: bagus…
ngga apa, ngga ngabarin yang lain dulu
toh nanti kalo udah dapet, bakal dibagi-bagi dengan yang lain

keesokan harinya, aku mengambil 2 buah mangga yang sudah agak mateng
biasanya memang ditaruh pembantuku di atas meja makan kalau dia kebetulan nemu mangga mateng setelah menyapu halaman
BPKC terlihat senang dengan 2 buah mangga yang kubawa sore itu
BPKC: "kersemnya besok ya, soalnya harus metik dulu. Bapak lagi disuruh ngebersihin halaman ini."

aku mengiyakan, karena saat itu BPKC memang sedang sibuk menyiangi rumput
dan mengangkut-angkut beberapa karung semen
sepertinya sedang ada renovasi

…….
negosiasiku gagal total keesokan harinya
sepulang sekolah, aku panik tidak menemukan lagi pohon kersem itu
seluruh halaman kantor camat sudah dipasangi paving block
pohon kersem itu ditebang tadi pagi, kata Mama
tanpa aba-aba gerombolan pemburu kersem berkumpul di luar pagar
sepeda-sepeda diletakkan, ditinggalkan pemiliknya begitu saja
kami memegangi pagar, meratap, seperti ditinggal mati

ratapanku mungkin lebih disebabkan dongkol akibat kalah licik
BPKC bahkan tidak menampakkan wajahnya karena merasa tidak perlu
lagipula, apa sih yang bisa kami colong lagi dari kantor camat itu
tak ada tanaman buah, paling cuma pot-pot kaktus dan bougenville
dan itulah akhir dari satu-satunya pohon kersem di alam semestaku itu…

=============================================

moral of the story dari kegagalan negosiasi kersemku:
1. jangan terlalu terobsesi dengan obyek negosiasi, bisa jadi mengaburkan logika
2. belum tentu orang2 yang lebih tua/senior itu mengatakan hal yg jujur
3. cari tahu rencana2 lawan negosisasi di masa datang yang bisa mempengaruhi obyek negosiasi
4. stick to your winning team - tetep cari dukungan grup, keputusan bersama tetap harus didiskusikan

(hehehe.. pelajaran berharga memang selalu telat datangnya…)



me & my business attire
March 16, 2008, 11:21 pm
Filed under: Uncategorized

me and my business attire dengan SQ 958 menuju kembali ke Jakarta
sudah dari tadi pagi, semua ditujukan untuk perjalanan ini
aku sudah berniat untuk tidak memulai pembicaraan dengan siapa pun
sudah terlalu lelah, dan nanti siang harus langsung kembali ke kantor
makanya, blazerku ini ngga boleh sampai jadi kusut

aku membuka bagasi kabin dan memasukkan tas laptop yang minta ampun beratnya
maklum laptop kantor memang membuat jeri siapa pun yang berniat mengambilnya tanpa izin
bukan karena alasan moral
tapi lebih karena alasan kepraktisan
apalagi aku memasukkan beberapa buku yang tadi sempat kubeli di bandara

me and my business attire, duduk di dekat jendela
saat sekitar 4 orang pria yang jelas-jelas dari Indonesia
masuk ke dalam kabin dengan logat Jawa/Tegal yang ngapak-ngapak
sungguh tidak dengan business attire
sangat kontras dengan mayoritas orang yang ada di dalam penerbangan itu

mereka membawa kantong kresek yang entah dijejali apa
dari warna sawo matang kulit wajah mereka, aku lantas berasumsi bahwa mereka adalah pekerja kasar
dan ya ampun, masuknya mas mas itu ke dalam ruangan, membuat kabin menjadi berbau tak sedap
entah asalnya dari baju, sepatu atau badan, atau gabungan ketiganya

agak pusing juga jadinya
apalagi mereka duduk di belakangku
entah mengapa aku mulai merasa orang yang duduk di sebelahku mulai memandangku dengan pandangan,"ah, you and your people!!"
aku mulai beringsut ke pinggiran, merasa ingin menghilangkan diri
"i’m not one of them, i’m here with my business attire…." pikirku

sepanjang perjalanan bau itu mengusikku
apalagi mereka sangat ribut mengomentari apapun
tentu dengan bahasa ngapak ngapak yang luar biasa norak
"duaaaar… tabrak baeeee…." teriak mereka setiap pesawat masuk awan
"i’m not one of them, i’m here with my business attire…." hiburku

untung penerbangan itu bukan penerbangan panjang
jadi satu jam dan lebih sedikit saja, dan SQ 958 sudah mendarat di Jakarta
"modaaaaaarrr kabeeeeh….!!!" teriak rombongan mas-mas itu ketika pesawat mendarat

seperti biasanya semua lantas buru-buru ingin keluar dari dalam kabin
masing-masing sibuk menenteng jas, tas dan buru-buru meninggalkan tempat duduk
aku lantas berjibaku mengambil tasku di atas bagasi kabin
berkali-kali aku terkena senggolan orang-orang yang buru-buru keluar
bahkan sempat tergilas roda koper seseorang yang mungkin sedang mengejar jadwal meeting

dan aduh, tas itu berat sekali
dan itu, aduh, badanku memang kurang tinggi
apalagi aduh, orang-orang ini ngga ada yang mau memberi jalan apalagi membantu

seseorang dari rombongan mas-mas itu berkata
"itu mbak’e kasian, mbok dibantu…."
tanpa berpikir panjang, seseorang yang lain mengulurkan tangan ke arah bagasi kabin di atasku
mengambil tasku yang lumayan berat
lalu menyerahkannya padaku sambil tersenyum
sumringah
ramah
"ini mbak, tasnya…."

me and my business attire
ditampar Tuhan
satu kosong untuk rombongan mas-mas berlogat ngapak-ngapak itu